"Aku belum makan dan ingin makan di sini," Lynx menolak ajakan Jelita dengan tegas, matanya menatap pelayan yang semakin memperburuk situasi.

"Kamu pembantu di sini, kan? Keluarkan dua jenis masakan andalan kalian yang paling mahal dan taruh di meja ini," Lynx berkata dengan nada sombong, tak bisa menahan rasa kesalnya melihat perlakuan pelayan itu yang membuat Jelita semakin malu. Suaranya menggelegar, mengisi udara dengan ketegangan.

"Hahaha..." Pelayan itu tertawa mendengar kata-kata Lynx, nada ejekan jelas terdengar, seolah-olah meremehkan keberanian Lynx.

"Tuan Zhen, Pengurus Liu, kalian dengar sendiri. Pria ini jelas-jelas tidak punya uang, pakaiannya seperti pengemis. Sekarang malah ingin memesan dua jenis masakan andalan kita yang paling mahal. Dia hanya ingin mengganggu usaha kita. Saya akan segera mengusirnya," kata pelayan tersebut dengan percaya diri, yakin bahwa Zhen Huan, bos pemilik rumah makan ini, akan memujinya.

Pelayan itu segera memanggil keamanan, "Usir dia dari tempat ini dan jangan biarkan mereka berdua menginjak tempat ini lagi!" teriaknya, merasa berkuasa.

"Tunggu!" tegur Zhen Huan, suaranya tenang namun tegas. Pengalamannya berbisnis mengajarkannya untuk tidak meremehkan seseorang. Ia melihat Lynx dengan tatapan yang ramah, "Apakah tuan serius ingin memesan masakan kami yang paling mahal?" tanyanya dengan ragu.

Lynx menganggukkan kepalanya, "Jika bukan untuk makan, untuk apa kami datang ke tempat ini?" jawabnya.

"Tuan Zhen, jangan percaya mereka. Saya bekerja di sini sejak rumah makan ini berdiri bersama Pengurus Liu. Mereka belum pernah sekalipun memasuki tempat ini. Saya berani taruhan, jika mereka memang punya uang untuk membayar makanan yang mereka pesan, maka saya akan mengganti semua uang mereka. Saya yang akan membayar makanannya," kata pelayan dengan sombong.

Zhen Huan terdiam sejenak, lalu memandang Pengurus Liu yang berdiri di sampingnya dan menganggukkan kepalanya.

Pengurus Liu, yang memahami situasi, segera bergerak ke dapur untuk memerintahkan tukang masak menyiapkan pesanan mereka.

"Tunggu!" kata Lynx tiba-tiba.

"Lihat, dia ketakutan setelah pesanan mau dibuatkan," kata pelayan sambil tertawa.

Zhen Huan memandangi Lynx dengan tatapan tajam, seolah meminta penjelasan.

"Aku membatalkan niatku. Aku ingin memesan masing-masing satu porsi dari semua jenis masakan yang ada di sini," kata Lynx, membuat Jelita semakin kaget dan takut.

"Apa kamu serius?" tanya Pengurus Liu, yang sejak tadi memperhatikan. Dia sangat mengetahui kondisi keuangan Xiao Lin dan Yun Qing. Dia bermaksud membantu mereka membayar untuk dua makanan yang mereka pesan sebelumnya, karena dia merasa kasihan dengan penyakit Xiao Lin dan kagum dengan kesetiaan Yun Qing.

"Pengurus Liu, mana mungkin dia sanggup membayarnya. Biarkan saya mengusir mereka," kata pelayan dengan perasaan senang karena dapat mempermalukan Xiao Lin.

"Apa yang aku pesan, itu urusanku. Ataukah kamu takut jika saya bisa mengeluarkan uang, maka kamu harus menggantikanku membayarnya?" sindir Lynx.

"Kamu..." pelayan itu menahan rasa marahnya, wajahnya memerah karena kemarahan dan rasa malu yang bercampur aduk.

Zhen Huan menatap tajam Lynx. Ia datang ke desa ini dengan tujuan penting; rumah makan yang didirikannya beberapa tahun lalu hanyalah kedok. Alasan sebenarnya adalah untuk memperluas wilayah dan mengumpulkan informasi. Dia juga memiliki rumah makan besar di setiap kota dan di beberapa desa.

Zhen Huan mengamati Lynx, berusaha memastikan apakah pria ini serius atau sekadar berniat merusak bisnisnya. Tatapan Lynx yang menenangkan dan sorot matanya yang tajam membuatnya ragu. Segera, Zhen Huan memandang Pengurus Liu, "Buatkan sesuai pesanannya."

"Tapi Tuan..." Pengurus Liu ingin membantah, namun dalam hati ia berpikir, "Biarlah, untuk sekali ini aku akan membantu mereka."

Ia menghembuskan napas berat, "Baiklah. Saya akan meminta tukang masak menyiapkan pesanan mereka."

"Kalian, lihat saja jika tidak bisa membayarnya. Aku tidak akan melepaskan kalian," kata pelayan tersebut dengan nada puas sebelum pergi untuk menerima pesanan orang lain.

"Silakan kalian tunggu dan nikmati makanannya. Saya akan kembali nanti," kata Zhen Huan sebelum berbalik dan melangkah kembali ke ruangannya.

Sementara itu, di sudut ruangan rumah makan tersebut, seorang pemuda asing memandangi Jelita tanpa henti sejak Jelita dan Lynx memasuki tempat itu. "Tidak kuduga di desa terpencil seperti ini ada wanita secantik itu. Kecantikannya mengalahkan semua wanita yang sudah kutiduri. Aku harus mendapatkannya," gumamnya dalam hati.

Pria tersebut mencoba merasakan kekuatan pria di samping wanita yang menarik perhatiannya. "Ternyata pria itu hanya sampah, hanya manusia biasa. Aku akan membunuhnya sekalian," pikirnya sambil menyeringai.

Lynx, sejak lewat di depan rumah makan, menyadari keberadaan dua orang kultivator di rumah makan, dia berkata dalam hati, "Mereka kultivator pertama yang kutemukan langsung di dunia ini. Menarik."

Karena energi sakti yang dimiliki Lynx unik dan berbeda, tidak ada seorang pun di benua itu yang bisa merasakan kekuatannya. Mereka hanya melihat Lynx sebagai manusia biasa, terutama karena ia lebih mengandalkan keistimewaan tubuhnya.

Saat memasuki rumah makan, Lynx melirik sekilas dan melihat seorang pemuda yang dirasakannya memiliki Qi, dan satu lagi adalah pemilik rumah makan.

"Kepala suku, eh, Xiao Lin, apa kamu yakin bisa membayarnya? Apa kamu tahu apa itu uang? Di sini berbeda dengan pulau tempat kita. Di sana kita bisa saling berbagi dan tukar-menukar jika menginginkan sesuatu. Di sini, kita harus membayar, artinya menyerahkan koin seperti emas, perak, atau perunggu. Setiap bentuk koin memiliki nilai yang berbeda," katanya dengan nada khawatir, memikirkan bagaimana cara membayar makanan nantinya.

Lynx tersenyum. "Tenanglah, aku paham. Aku sudah melihatnya saat perjalanan tadi, dan konsep menggunakan uang sudah ada di duniaku."

"Duniamu? Ternyata memang benar kamu berasal dari dunia yang lain seperti Lala dan Kael," kata Jelita, yang baru mengetahui kebenarannya. Sebelumnya, penduduk Surya hanya menebak-nebak bahwa Lynx adalah orang asing karena mereka belum pernah melihatnya.

Lynx menganggukkan kepalanya. "Iya, jadi kamu tidak perlu khawatir."

Saat berbicara, Lynx diam-diam mengeluarkan formasi untuk menyegel suara, agar tidak ada yang dapat mendengarkan percakapan mereka. Ia tidak ingin pemuda asing dan pemilik rumah makan yang seorang kultivator mendengar pembicaraan mereka dari jauh.

Tidak berapa lama, makanan yang dipesan pun tiba, menyajikan lima belas hidangan istimewa yang menggugah selera. Di atas meja, terhidang Nasi Api Phoenix dengan Daging Ayam Emas Berkilau, Sup Jamur Ajaib yang Kental, dan Sayur Hijau Mistis dengan Saus Kacang Pelangi, menciptakan aroma yang menggoda.

Ikan Bakar Serpentine dengan Rempah Rahasia dan Daging Sapi Naga Lada Hitam menambah kelezatan. Sementara itu, Daging Kuda Rebus dengan Bumbu Bintang dan Sayur Akar Petir siap memanjakan lidah. Kerang Kukus dengan Bawang Putih Astral dan Tumis Sayuran Liar Perkasa melengkapi hidangan utama.

Hidangan lain yang tak kalah istimewa adalah Bakwan Sayur Renyah yang disebut Cakram Krispi dan Telur Puyuh Rebus Lembut yang dikenal sebagai Permata Bulan. Kue Beras Kukus Isian Manis, atau Roti Bulan Penuh Cahaya, dan Teh Herbal Hangat yang disebut Minuman Energi Semesta menjadi penutup yang sempurna. Kembang Tahu dengan Saus Gula Merah, dikenal sebagai Manis Surgawi, siap menambah manisnya pengalaman bersantap mereka.

Hidangan-hidangan itu disajikan satu per satu di atas meja oleh seorang pelayan, dibantu Pengurus Liu. Aroma menggoda memenuhi ruangan, dan Jelita menatap penuh takjub.

"Xiao Lin, bagaimana cara kita menghabiskan makanan sebanyak ini?" tanya Jelita dengan mata berbinar-binar. Ia belum pernah menyaksikan makanan seindah ini. Keharuman yang tiada duanya membuatnya bingung antara gelisah tentang cara membayar dan rasa ingin memakannya.

"Makanlah, tidak perlu menahannya. Jika tidak habis, kita bisa membuangnya," kata Lynx dengan santai.

Jelita menelan ludahnya, rasa ingin memakannya sangat kuat, tetapi dia tahu mereka tidak punya uang untuk membayarnya. Namun tiba-tiba, Pengurus Liu diam-diam memberikan sebuah kantung lewat bawah meja. "Gunakan ini untuk membayarnya," bisik Pengurus Liu.

Jelita merasa bingung dan mengintip isi kantung tersebut, terkejut saat melihat beberapa koin perak di dalamnya. "Ini?" tanyanya bingung.

